MUNGKINKAH HIBAH KEKUASAAN TERJADI DI PANGKALPINANG 2013

Jumlah pemilih muda dalam pemilihan umum kepala daerah tak bisa diremehkan. Meski banyak kaum muda yang apatis, sebagian dari mereka tetap menginginkan perubahan. Lalu, bagaimana jika kaum muda berdiskusi tentang kepemimpinan daerah?

Kepemimpinan daerah membutuhkan orang muda yang bisa melakukan perubahan di segala bidang. Hal itu pun berlaku di pangkalpinang yang akan menggelar Pilkada 2013.

perlu ada regenerasi kepemimpinan. ”Negeri ini membutuhkan orang yang tidak hanya muda secara umur, tetapi juga berjiwa muda dengan gasasan yang segar. Ini menjadi angin baru yang dapat melakukan tindakan nyata dan realisasi program yang berkesinambungan,”

Krisis kepemimpinan karena kurangnya, bahkan tak adanya pendidikan politik yang baik, jelas memengaruhi karakter calon pemimpin ke depan. Tak heran jika pada akhirnya muncul nama-nama lama menjelang Pilkada

Permasalahan yang datang kemudian adalah jika tak ada nama-nama tersebut yang muncul dalam pemilu daerah, lantas siapa yang dapat memimpin pangkalpinang? Adakah calon pemimpin yang secara efektif mampu menyelesaikan permasalahan secara adil?

Jika dikaitkan dengan kepemimpinan dan orang muda, di Indonesia, terutama di pangkalpinan, belum ada sosok baru. muda tidak hanya dilihat dan dimengerti dari segi umur, tetapi juga gagasannya.

Calon pemimpin tersebut tidak hanya sanggup menyelesaikan masalah secara efektif, tetapi juga memiliki brand image calon itu sendiri.

Namun, mereka belum memiliki brand image yang khas. Mereka belum memiliki gagasan yang revolusioner.

Krisis

krisis kepemimpinan ini disebabkan tak adanya pendidikan politik oleh partai politik, organisasi, LSM, termasuk lembaga pendidikan.

”Kewirausahaan tidak ada yang ditanamkan kepada mahasiswa oleh pemda telah menjadi wabah. Itu tak masalah jika dalam batas wajar. Namun, program kewirausahaan yang digembar-gemborkan pemerintah telah melewati batas. Program kewirausahaan menjauhkan mahasiswa dari nilai kebangsaan,”

Masyarakat pangkalpinan sepertinya harus bersabar atas munculnya sosok muda yang memiliki determinasi dan keberanian yang kuat dalam memimpin. Namun, ini tak berarti orang muda atau masyarakat kita antipolitik.

Sebenarnya masyarakat sedang galau. Mereka merindukan pemimpin muda. ”Pe-er kita selanjutnya adalah bagaimana mentransfer kegalauan privat mengenai permasalahan politik ini menjadi kegalauan publik, lalu bersama-sama kita menemukan solusi dari permasalahan tersebut,”mengingat begitu  kompleksnya permasalahan yang terjadi, dituntut stamina yang tinggi dari seorang pemimpin. Oleh karena itu, diimbau kepada partai politik untuk mengusung cawako yang berusia muda.

“Bagaimana mungkin seorang pemimpin yang sudah berusia uzur mampu memimpin pangkalpinang dengan baik, sebab staminanya saja sudah menurun. Sementara untuk menuntaskan berbagai permasalahan  dibutuhkan stamina yang senantiasa fit,”

Terkait pencalonana sejumlah cawako yang sudah berusia di atas 50 tahun, Arifin mengharapkan para kandidat tersebut legowo mengundurkan diri. Berilah kesempatan kepada yang muda-muda untuk memimpin pangkalpinang lima tahun ke depan.

“Kalau yang tua-tua tetap ngotot maju, sampai kapan regenerasi kepimpinan bisa terjadi di pangkalpinang. Sudahlah, yang tua-tua silahkan minggir, beri jalan bagi yang muda-muda,” 

Memang benar bahwa pangkalpinang tidak kekurangan pemimpin baru. Mereka semua dapat ditemukan dalam organisasi-organisasi sipil, masyarakat bisnis, dan masyarakat pada umumnya. Namun, adalah fakta bahwa jalan menuju pangkalpinang 1, seperti di banyak negara demokrasi lainnya, harus melalui partai politik. Hanya partai politik yang dapat mengajukan calon

Adalah hal yang lumrah jika mereka mencalonkan anggota mereka sendiri yang telah bekerja keras dalam partai. Tapi mungkin saja partai-partai politik mengajukan calon non-partai. Meskipun begitu tetap saja partai politik memainkan peran penting dalam memastikan perubahan generasi.

Oleh karena itu, kita perlu menyambut munculnya sejumlha figure muda sebagai bukti bahwa generasi baru pemimpin politik Indonesia memang dalam pembuatan. Kita tentu juga berharap bahwa partai-partai politik akan segera memberikan kesempatan lebih besar bagi kader muda mereka untuk mendapatkan pengalaman kepemimpinan nyata. Para pemimpin muda, begitu mereka muncul, membutuhkan semua dukungan yang mereka dapatkan dari mentor mereka dan senior.

Namun, harus diingat sedikitnya ada tiga tantangan untuk memastikan bahwa perubahan generasi akan berlangsung dalam jangka pendek untuk Pemilihan kepala daerah. Pertama, pemimpin generasi tua perlu menyadari bahwa mereka tidak dapat mendominasi kekuasaan selamanya. Kedua, sangat penting bagi para pemimpin muda untuk membuktikan diri mereka memang mampu untuk memimpin. Ketiga, baik pemimpin tua dan muda harus bekerja sama untuk memastikan negara mengalami transisi kekuasaan secara demokratis.

 

Ada apa gerangan dengan fenomena ini, sehingga orang-orang muda masih dianggap sekedar wayang kulit di tangan para dalang?

Kekuasaan dan kekuasaan bukanlah sesuatu yang tabu. Dengan kekuasaan maka seeorang dapat mewujudkan mimpi-mimpi politiknya untuk  mensejahterakan rakyat, menegakkan keadilan dan kebenaran. Meskipun ada juga yang sekedar memenuhi hasyrat pribadi, bahkan juga kehendak hendak membangun dinasti kekuasaan.

Namun semata berorientasi kekuasaan dan melupakan mengapa sebuah partai politik didirikan bisa  membuat ahistoris. Pada dasarnya partai politik didirikan adalah sebagai bentuk kedaulatan rakyat. Partai politik berdiri tak bisa melepaskan diri dari kedaulatan yang berarti juga impian dan harapan rakyat. Tegasnya partai politik adalah perwujudan dari demokrasi, yang menampung hasyrat dan mimpi-mimpi rakyat.

Historis partai politik ini mengharuskan bahwa apapun putusan partai haruslah bottom up. Bukan top down. Segala sesuatunya diputuskan berjenjang mulai dari tingkat paling bawah dan mendaki perlahan ke tingkat yang paling tinggi. Sayangnya, kehidupan partai macam ini hanya tinggal di atas kertas, jika pun masih ada yang mencantumkannya dalam AD dan ART partai.

Dalam prakteknya semangat demokrasi itu telah berubah menjadi budaya paternalistis. Para DPC dan DPD yang hendak berangkat ke kongres selalu melihat gejala di tingkat elit. Maklum, ini pula yang disosialisasikan para elit ke tingkat bawah yang kemudian melahirkan dukungan, boleh jadi karena faktor X, bisa saja oleh money politics atau pikiran pragmatis siapa yang  dominan di pusat kekuasaan partai politik.
 
Dengan pola macam itu, dipastikan tokoh-tokoh muda tak mempunyai mesin politik yang kuat karena tidak dibarengi oleh dana politik yang kuat pula. Kekuatan gagasan semata rupanya tidak menggoda para peserta kongres yang kemungkinan besar lebih berpikir pragmatis dan transaksional. Tak ayal, anak muda menjadi marginal dan feriferal, apa boleh buat.

Tak mungkin kaum tua itu menyerahkan kekuasaan bagaikan “hibah kekuasaan” begitu saja kepada anak-anak muda sepotensial apapun mereka. Jangan-jangan mereka telah mempunyai rencana tersendiri, dan orang-orang muda yang dimaksud tidak termasuk daftar.

Rencana “tersendiri” itu boleh jadi berbau “nepotism.” Memang sukar untuk mengatakannya secara terbuka, namun fenomena itu sedikitnya sudah mulai terbayang-bagi mereka yang secara jeli menyimak dunia persilatan di panggung politik kontemporer di negeri ini.

Jadi bagaimana, dong? Saya kira peluang itu harus diperjuangkan secara demokratis, jika “merampok” kekuasaan diangap ilegal. Toh jumlah orang muda yang berusia 17 tahun hingga 45 tahun di negeri ini sangat signifikan dan dominan. Saya membayangkan jika gerakan generasi 17-45 tahun itu tampil di facebook atau witter, barangkali gegap gempitanya luar biasa.

Bargainingnya cukup besar. Jika perlu ajukan petisi, bahwa anak-anak muda tidak akan memilih partai itu dalam Pemilu, Pemilihan Presiden dan Pilkada  jika tak sudi melakukan reshuffle. Dicoba dululah, setidaknya ketika terbukti kita lega tatkala gerakan peduli dan cinta  Prita berhasil secara surprise.

Anggapan bahwa anak-anak muda itu apolitis justru menemukan peluangnya dengan gerakan ini. Mungkin mereka apolitis justru setelah kecewa dan putus asa melihat performance partai politik selama ini. Inilah peluangnya dan jangan ditunda lagi karena tak mustahil tertunda selamanya ketika pemegang kekuasaan politik melakukan konsolidasi untuk mempertahankan kekuasaannya. (***)Image

 

 

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: