CAGUB 2012 + Political marketing = GUB BABEL

CAGUB 2012 + Political marketing = GUB BABEL

Pesta demokrasi di babel 2012 ini sudah hampir memasuki tahapan yang dijadwalkan oleh KPU BABEL, tetapi sampai dengan sekarang derang menderang calon belum begitu tampak, berkaca dari itu semua saya pengen mengeluarkan uneg uneg saya secara pribadi,

SIAPA calon gubernur yang saleable (layak jual) untuk BABEL 2012 menarik untuk didiskusikan. Pertama, menyangkut masa depan BABEL 5 tahun mendatang. Kedua, isu banyaknya kandidat yang muncul. Baik secara terang mengumumkan akan maju, maupun yang masih malu-malu tapi terus melakukan soft compaign.

Pertanyaan ini penting dimunculkan. Bukan saja bagi masyarakat BABEL yang (mungkin) mengalami “kebingungan” untuk memilih. Melainkan harus pula disadari oleh kandidat, layak tidakkah ia mencalonkan diri. Demi mengetahui posisioning dan diferensiasi kandidat atau partai di mata publik. Cukup berintegritaskah, baik dalam hal identitas maupun citra kandidat. Atau hanya sampah yang “didaur” ulang.

Istilah klasiknya, Menjadi calon gubernur memang hak asasi dan dilindungi konstitusi. Sama halnya hak politik lain sebagai warga negara dengan ketentuan dan syarat yang berlaku.

Baik melalui calon perseorangan, maupun jalur partai. Apalagi dalam iklim demokrasi yang sedang kita rajut dan bangun bersama BABEL. Yang pasti, adagium jangan kalah atau menyerah sebelum bertanding mesti diakomodir. Walau, ongkos politik menuju kursi BABEL 1 tidaklah murah. Begitupun halnya

pemilih, harus benar-benar mengetahui calon mana yang layak untuk dipilih atau kita “beli” untuk memimpin BABEL mendatang. Political marketing Dalam konsep dasar political marketing, bicara produk politik biasanya dirumuskan dalam 4 hal. Yaitu, person, party, policy dan presentation.

Pertama,person. Bicara tentang orang. Bagaimana memasarkan seseorang. Nah, kalau di BABEL, siapa kira-kira dari para kandidat gubernur sekarang yang memiliki modal itu? Punya kharisma untuk diomongin sampai di pelosok dan sudut Kampong. Tentu, yang dibicarakan adalah hal-hal positif. Figur yang layak digantungkan harapan perubahan.

Kedua, party, kita boleh punya partai yang luar biasa, atau menang besar dalam pemilu legislatif. Tapi di hadapan pemilih yang menginginkan ada figur yang membuat mereka tertarik untuk memilih, maka partai tidak ada arti apa-apa.

Apalagi potret figur yang selama ini muncul, sangat mengecewakan, dan tidak mampu mengemban amanah rakyat. Jadi, wajar bila ada yang “membelot”, memunculkan kandidat lain. Di sinilah ketakutan partai politik dominan untuk menjegal calon independen. Sebab bila muncul lebih dari satu calon dari basis yang sama, akan sulit menggapai kemenangan.

Ada juga partai, memang tidak mengandalkan figur. Namun, mereka harus siap dengan konsekuensi bahwa mereka harus membina basis dukungan partai dengan cara yang lebih keras. Dengan ihktiar yang lebih kuat. Depersonalisasi lebih tegas.

Memutuskan kecendrungan personalisasi. Jadi, network lebih penting. Menjual person tidak perlu pakai network. Seperti multi level marketing, kita terjerat dalam suatu sistem, sehingga kita terus mengomongkan seseorang.

Ya, dari mulut ke mulut. Jadi, konsekuensinya memperkuat partai adalah memperkuat jaringan. Bertumpu pada figur orang, itu akan berbeda. Partai harus punya network yang kuat. Basisnya tidak boleh keropos. Ketiga, policy, yaitu platform, orientasi dan lain-lain.

Tiga produk tersebut harus dibungkus. Itulah yang keempat disebut presentasion.

Dalam konteks political marketing, maka presentasi adalah branding, atau citra.

Produknya terbatas, tapi dibungkus dengan kualitas branding yang hebat. Seperti

air minum, yang kita masukkan dalam botol yang berbeda. Produknya sama, tapi

karena kemasan yang berbeda, kita ciptakan branding dengan class yang berbeda.

Artinya, kita mementingkan branding. Identitas dan integritas menjadi tidak

penting. Menurut Eep Saifollah Fatah, pendekatan political marketing yang

berlandaskan citra saja, hanya 1/3 dalam political marketing.

Presentasi harus membungkus kualitas produk tertentu. Kadang-kadang produk yang

mau dijual adalah bagus, tapi presentasi yang buruk. Presentasi produk jadi

tidak berguna. Sebaliknya, produk jelek, bungkusnya bagus, orang akan

terpengaruh.

Jadi 4 bagian produk ini sangat penting untuk dikemas. Mengemas presentasi bisa

pakai cara instan dan mudah. Tapi, mengemas keseluruhan produk ini tidak bisa

instan. Butuh proses dan kerja keras. Itu bedanya. Mengemas presentasi cukup

dengan melakukan pencitraan, lewat serangan udara. Iklan yang banyak,

membagikan kalender di warung-warung kopi, TV, atau media cetak. Tapi pada saat

yang sama presentasi itu tanpa dikaitkan dengan produk yang lain, tidak akan

banyak gunanya.

Sisi lain, adalah faktor etika. Budaya masyarakat yang masih terpengaruh dengan

money politic, intimidasi dan kekerasan. Sepatutnya, kandidat gubernur atau

partai yang memilih jalan ini harus dilawan. Menghalalkan segala cara untuk

menang adalah sangat keji dan pembodohan sistemik. Politisi busuk tidak layak

memimpin kita. Rakyat BABEL harus melihat perubahan diri sendiri sebagai tumpuan

perubahan, bukan mengharapkan perubahan itu datang dari atas. Salah satunya

adalah dengan cara memilih pemimpin yang benar, dengan cara-cara yang benar.

Mengetahui benar kandidat atau partai berikut programnya. Track record perlu

dilihat dan dipertimbangkan. Jangan asal pilih. Lalu rugi 5 tahun mendatang.

Menjadi saleable yang tak kalah penting juga untuk calon gubernur BABEL adalah

ia harus diyakini oleh banyak orang mampu mempertaruhkan nilai-nilai kebenaran,

keterpercayaan, dan kejujuran. Selain memiliki modal intelektual, modal

kultural dan modal simbolik, berupa status dan prestise yang baik di tengah

masyarakat. Melihat realitas calon yang muncul, saya pikir semua masih memiliki

peluang. Tidak ada yang terlalu dominan satu dengan yang lain.

Kalau merujuk hasil survei beberapa lembaga, seperti Lingkaran Survei

Indonesia (LSI), beberapa nama muncul dengan rating tinggi. Tapi survei itu

juga memiliki kekurangan, Misalnya pada sampling error-yang diambil. Jangan

heran bila hasil satu lembaga dengan lain jadinya berbeda. Hasil survei memang

sedikit banyak memengaruhi psikologi pemilih atau menggiring pemilih pada

kandidat tertentu. Tapi belum tentu orang yang memilih dalam survei itu akan

memilih dalam pilkada. Sebab riset politik lebih complicated dibanding riset

pasar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: