Solusi Semu Dalam Masalah Kepemimpinan

Solusi Semu Dalam Masalah Kepemimpinan

Sehari-hari kita dapat menyaksikan semakin meningkatnya keluhanmasyarakat atas buruknya sistem dan birokrasi. Ini ditambah denganmaraknya kasus korupsi, markus dan penyelewengan jabatan dalam bentukyang lain. Serta di perparah dengan proses hukum yang ‘mandul’ kalausudah berhadapan dengan pejabat tingkat tinggi.
Disisi lain, persoalan bencana alam, pendidikan, kesehatan, dan TKW/TKIjuga tak kunjung selesai. Ditambah persoalan pilkada yang jugamenghimpit bangsa ini. Intinya, di Indonesia kini sedang terjadipersoalan kepemimpinan pemerintahan.
Berdasarkan kenyataan di atas, muncullah berbagai upaya untukmewujudkan kepemimpinan yang berhasil. Intinya, bagaimana menghasilkankepemimpinan yang memiliki komitmen sebagai pelayan (servant leaders)dan tanggung jawab kepada masyarakat (public accountability). Namun,dalam implementasinya, solusi-solusi yang diberikan tidaklah memberikankeberhasilan. Solusi-solusi semu tersebut di antaranya:
Pertama, terlalu bergantung kepada figur dan kurangmemperhatikan pentingnya sistem. Figur memang diperlukan, tetapi iatidak dapat berdiri sendiri. Sebab, figur menyatu dengan sistem yanghendak diterapkannya. Ketika yang dipentingkan hanyalah persoalan figurmaka yang terjadi adalah status quo: pergantian figur pemimpinterlaksana, tetapi perubahan sistem dan perbaikan masyarakat tidakterjadi.
Sebagai contoh, kepemimpinan nasional Indonesia berganti-gantitetapi persoalan kepemimpinan pemerintahan hingga saat ini tetap sama.Dulu, pada zaman Soeharto, yang bahkan dijuluki sebagai BapakPembangunan dan sangat dielu-elukan, diharapkan terjadi perubahansignifikan. Realitasnya, selama 32 tahun berkuasa yang ada adalahotoritarianisme, militerisme, penumpukkan kekayaan, korupsi, kolusi dannepotisme. Hukum pun bersikap mendua: pada pihak lemah diterapkansecara konsisten, sementara pada pihak penguasa dan konglomerat takberdaya. Karena itu, mafia peradilan pun menjadi fenomena.
Figur pemimpin lalu berganti: Habibie, Abdurrahman Wahid, kemudianMegawati. Habibie dipandang figur teknokrat, Abdurrahman Wahiddidudukkan sebagai figur tokoh agama yang humanis, dan Megawatidianggap sebagai figur yang diharapkan akan membela wong cilik.
Namun, sekalipun telah terjadi pergantian figur, hingga saat ini,masa SBY, dilihat dari pelayanan terhadap masyarakat tak ada perubahanberarti: keberpihakkan pun tetap pada konglomerat, tidak bergeser padakaum melarat dan umumnya rakyat; persoalan hukum juga tetap hanya milikorang berada, semuanya dibangun di atas sistem kapitalisme-sekular yangsejak awal berpihak pada yang kuat.
Kedua, lebih menuruti keinginan rakyat yangdirepresentasikan oleh para wakil rakyat. Padahal, keinginan tersebuttidak selalu benar. Apalagi sebenarnya terdapat keterputusan hubunganantara rakyat dan wakilnya. Begitu juga dengan pemilihan kepala negarasecara langsung. Karenanya, pada saat mereka membuat aturan, tidakselalu aturan yang dihasilkan mencerminkan suara rakyat. Andaikanmencerminkan suara rakyat, itupun tidak selalu benar. Contohnya adalahreferendum tentang Timor Timur yang berakhir dengan lepasnya daerahtersebut dari negeri Muslim Indonesia.
Ketiga, membentuk koalisi kepemimpinan atas dasarnasionalisme-religius, Jawa-Luar Jawa, dan sipil-militer. Koalisi jenisini bukanlah koalisi yang didasarkan pada kesamaan pemahaman danideologi, tetapi pada kepentingan (baca : uang, siapa yang bayar lebihtinggi itu yg didukung partai). Karenanya, tidak mengherankan jikaproduk hukum/aturan dan pelayanan terhadap publik pun bergantung padahasil kompromi yang melindungi kepentingan partai masing-masing, paraelitnya, pengusaha pendukungnya, dan konstituen partai masing-masing.Setelah itu, barulah berbicara tentang kepentingan rakyat.
Berdasarkan perkara di atas, teranglah bahwa ketiga solusi tersebut tidaklah mendatangkan kepemimpinan yang berhasil.
Akar Persoalan Kegagalan Kepemimpinan Nasional

Allah Yang Mahaperkasa berfirman: Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; melakukan amar makruf nahi mungkar, dan mengimani Allah. (Qs. Ali-’Imraan [3]: 110).
Dalam ayat di atas, Allah SWT menegaskan dua perkara.
Pertama, umat Mumammad Saw adalah umat terbaik yangdikeluarkan untuk manusia. Artinya, kaum Muslim sejatinya menjadi umatterbaik bukan hanya bagi bangsa Arab atau sebatas kaum Muslim saja,melainkan juga untuk kaum Muslim maupun non-Muslim di seluruh dunia.Sebab, frasa linnâs menunjukkan makna bagi seluruh manusia, tanpakecuali. Umat terbaik tentu bukanlah umat yang dijajah, pemimpinnyadiciduk bahkan dibunuh, rakyatnya dibantai, kekayaannya dirampas,ekonominya dikuasai, perjanjiannya dikhianati, dijadikan bulan-bulanan,dan lain-lain.
Kedua, kaum Muslim sebagai umat memiliki karakterselalu melakukan amar makruf nahi munkar. Yang dimaksud tentu sajabukan sekadar amar makruf nahi munkar terhadap perilaku individual,tetapi juga terhadap perilaku masyarakat, dan pemerintah; termasukterhadap negara-negara besar. Untuk itu, umat Islam perlu memilikikekuatan dan kekuasaan yang mampu menghentikan kejahatan negara-negarabesar tersebut.
Faktanya, kini hampir di seluruh dunia, negara-negara di Dunia Islamtermasuk ke dalam kelompok Dunia Ketiga, yang rata-rata sedangberkembang bahkan terbelakang. Umat Islam belum menjadi umat terbaikbagi manusia. Kepemimpinan nasional yang ada gagal memajukan kaumMuslim dan membentuknya menjadi umat terbaik. Setidaknya ada tiga sebabmengapa hal ini terjadi, yaitu penerapan sistem sekular, pemimpin yangtidak bertakwa, dan menjadi kaki tangan asing.
Penerapan Sistem Sekular
Secara i‘tiqâdî, penerapan sistem sekular, yang berartimengatur kehidupan atas dasar bukan Islam, akan mendatangkanpenghidupan yang sempit, baik material maupun nonmaterial.
Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Qur’an), sesungguhnyabaginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya padaHari Kiamat dalam keadaan buta. (Qs. Thaha [20]: 124).
Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankanhukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkanAllah, kecuali Allah akan menjadikan malapetaka di antara mereka.”(HR. Ibnu majah & Al Baihaqi)
Fakta menunjukkan bahwa dengan penerapan sekularisme ygmengakibatkan hukum dibuat oleh manusia atas dasar suara mayoritas(hakikatnya yang membuat adalah para konglomerat/bahkan asing yangtelah menanam ‘saham’ dalam dunia politik). Jadilah yang berkuasaadalah mereka yang kuat.
Sekularisme melenyapkan nilai-nilai kemanusiaan dan menumbuhkanpraktik-praktik ‘ekonomi’ gelap seperti judi, pemabukan, perdaganganfilm porno, dan pelacuran. Sebab, selama ada orang yang menginginkan,menurut pandangan kapitalisme, barang atau jasa yang diinginkantersebut menjadi barang atau jasa yang bernilai ekonomis. Sistem inipun terbukti telah menghasilkan penguasa yang pro konglomerat. Kasusbank century, dan markus pajak menjadi secuil bukti dari hal ini.

Pemimpin Yang Tidak Bertakwa
Penerapan sistem sekular ini diperparah dengan pemimpin yangtidak bertakwa yang rela untuk mendustai rakyatnya, menjual aset milikrakyat kepada asing, membuat perjanjian, dan undang – undang yangmenyengsarakan rakyat.
Kaki Tangan Asing
Kedua perkara tersebut akan lebih parah lagi jika parapenguasa mau menjadi kaki tangan asing. Pada saat penguasa menjadi kakitangan asing maka pada saat itulah kepemimpinan berada di tangan asingtersebut. Segala perkara yang dipandang merugikan mereka akanditentang, jika perlu mengganti penguasa di negeri tersebut. Karenanya,pemimpin seperti ini memandang rakyat yang tidak setuju dengankebijakannya yang berpihak kepada asing sebagai musuh.
Oleh sebab itu, sekedar ganti penguasa tanpa perubahan sistem sebenarnya tidaklah menyelesaikan masalah negeri ini.
Kepemimpinan Kuat dan Amanah dengan Islam
Kepemimpinan yang kuat dan amanah hanya akan lahir jika dasarnya adalahkepemimpinan ideologis (qiyâdah fikriyah). Artinya, kepemimpinan harusdibangun oleh akidah Islam dan syariahnya.
Pemimpin dan rakyat sama-sama memahami dan berpegang pada akidah dansyariah Islam. Pemimpin diikuti bukan karena akhlaknya semata,melainkan juga karena dia pengemban kebenaran. Begitu juga, pemimpinberkuasa bukan karena kekuasaannya belaka, melainkan karena amanahnyauntuk menerapkan Islam. Tidak mengherankan, kepemimpinan seperti iniakan melahirkan rasa cinta di antara pemimpin dan rakyatnya. Sebab,tujuannya sama, yakni ingin masuk surga bersama-sama melalui ketaatanpada syariah-Nya. Tegas sekali, penjelasan dari Rasulullah Muhammadsaw.:
Sebaik-baik imam (pemimpin) kalian adalah yang kalian cintaidan mereka mencintai kalian serta yang kalian doakan dan mereka jugamendoakan kalian. Seburuk-buruk imam (pemimpin) kalian adalah yangkalian benci dan mereka membenci kalian serta yang kalian laknat danmereka juga melaknat kalian. (HR Muslim, Ahmad dan ad-Darimi).
Jadi, langkah pertama yang ditempuh dalam membangun kepemimpinan adalah: jadikan kepemimpinan ideologis Islam sebagai landasan.
Kedua: tolak ideologi penjajah dan tegakkan sistemIslam. Rasulullah saw. mencontohkan hal ini. Di Makkah, Beliau menolakkekuasaan karena sistem kejahiliahan Quraisy masih bercokol. Berbedadengan itu, Beliau justru menerima tawaran kekuasaan di Madinah pascahijrah dengan menerapkan Islam secara kâffah. Sekularisme yang menopangkapitalisme, pluralisme, dan liberalisme harus ditolak. Penggantitunggalnya adalah: jadikan akidah Islam sebagai landasan dalamkehidupan dan terapkan syariah Islam yang memberikan rahmat bagimasyarakat plural. Rombak sistem pendidikan materialistik, keluargakonsumeristik, ekonomi kapitalistik, dll dengan sistem Islam.
Ketiga: ciptakan sosok pemimpin yang baik. Untuk itu, perlu dibangun kesadaran ideologis dan politik penguasa. Rasulullah saw.
Keempat: ciptakan tradisi amar makruf nahi mungkar.Salah satu bentuk penting dari amar makruf nahi mungkar adalahmengoreksi penguasa (muhâsabah li al-hukkâm). Dalam Islam, masyarakatdidorong untuk berkata baik sekalipun pahit, dan mengoreksi penguasa(QS Ali Imran [3]: 104). Partai politik/ormas maupun individu, termasukulama, akan meluruskan penyimpangan penguasa dari Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: