Peran Pemuda di Era Reformasi Terjebak Pragmatisme Politik Sesaat

Peran Pemuda di Era Reformasi Terjebak Pragmatisme Politik Sesaat



      Rabu, 17 Mei 2006 18:30
      Kapanlagi.com– Peran pemuda di era reformasi semestinya optimal di semua bidangkehidupan masyarakat karena wadah mereka berhimpun baik di Ormas maupunpartai politik di era Orde Baru selalu mendengungkan visi dan misimengembangkan demkrasi, namun keika Orde Baru tumbang kalangan pemudajustru terjebak pragmatisme politik sesaat. Demikianpemikira yang mencuat dalam diskusi “Menakar Nasionaliema Pemuda” yangdiselenggarakan Forum Komunikasi Massa (FKM) di Gedung DPR/MPR Jakarta,Rabu (17/05).
      Diskusi menghadirkan mantan Ketua DPRAkbar Tandjung, Direktur Program The Indonesia Instittute Dr CecepEffendy dan Asisten Deputi Pendidikan Menpora Erlangga Masdiana.
      AkbarTandjung menjelaskan, peran pemuda di era reformasi diharapkan meliputisemua bidang, baik politik, ekonomi, hukum, budaya dan mendorongdemokratisasi. Partai politik dan Ormas kepemudaan harus menunjukkankepeloporan yang kuat di berbaai bidang.
      Namun peranpemuda di era reformasi justru terjebak pada pragmatisme kepentinganpolitik. Orentasi memperebutkan jabatan-jabatan politik begitu kuat,dibanding kepeloporan di bidang ekonomi, hukum dan budaya. Begitu jugapenanaman nilai-nilai demokrasi dan akuntabilitas publik belum tampakdilakukan pemuda.
      Kalangan pemuda masih berwacanamengenai wacana-wacana praktis dan kepentingan pragmatis sesaat.Orentasinya belum diarahkan untuk kepentingan jangka panjang.
      “Dari sisi perpektif politik, mereka belum mampu perjuangkan idealisme seperti yang didengungkan sebelum reformasi,” katanya.
      Akbarmengatakan, ketika reformasi yang membawa perubahan, pemuda justruterkejut menghadapi perkembangan. Ini membuktikan bahwa wacana-wacanayang dikembangkan belum diarahkan untuk kepentingan jangka penjang.
      ErlanggaMasdiana memperkuat analisis Akbar Tandjung dan lebih banyak mengulaspenyebab atau akar persoalan rendahnya kepeloporan pemuda di erareformasi. Kalangan pemuda berada di simpang jalan dan gamangmenghadapi perubahan di era globalisasi.
      Di sisi lain,partai politik dan Ormas yang selama era Orde Baru mendengungkandemokratisasi menempatkan pemuda sebagai aset politik.
      “Untuk bidang politik, pemuda memang sudah tampak berperan. Tetapi bagaimana dengan bidang lain,” katanya.
      Slogandemokratisasi dan perubahan yang didengungkan di era Orde Baru tidakdiimbangi dengan kesiapan menghadapi perubahan. Mereka pun terjebakkepentingan pragmatisme.
      Mereka kemudian gamang memilihidentitas dan kehilangan arah (anomin). Mereka terjebak dalam posisiyang sulit, yaitu tidak menganut nilai-nilai lama, tetapi gamang untukmenjalankan budaya baru.
      “Mereka menghadapi situasi yang anomali,” katanya.
      Hal sebagai akibat kemiskinan massal dan kemiskinan struktural atau pemiskinan massal dan pemiskinan struktural.
      Disisi lain, faktor kepemimpinan di kalangan pemuda juga berpengaruh atasposisi kegamangan itu. Jaringan kepemimpinan yang mereka hadapimengakar ke atas, tetapi untuk kepentigan politik. Akibatnya, akansulit memunculkan nasionalisme baru.
      Untuk menumbuhkannasionalisme baru, Erlangga menyarankan agar dikembangkan lagi sejarahkebangsaan, regulasi yang jelas adanya UU Kepemudaan) dan kemampuanmerespons bangsa ke depan.
      Dengan nasionalisme baru,kata Erlangga, pemuda diharapkan bisa berperan seperti yang disampaikansosiolos Peter L Berger, yaitu mengupas topeng-topeng kepalsuan dimasyarakat.
      “Bangsa ini membutuhkan pemuda-pemuda yang mampu membuka topeng-topeng kepalsuan,” katanya.
      CecepSyaifuddin menjelaskan, tidak identitas baru ditunjukkan bangsa iniyang dipelopori pemuda di era reformasi. Pemuda-pemuda India danMalaysia bisa menunjukkan identitas kepeloporan di tengah perubahanglobal.
      Selain pemuda, parpol-parpol juga gagalmerealisasikan visi dan misi menghadapi perubahan. Apabila di era OrdeBaru, visi dan misi mereka adalah demokratisasi, tetapi parpol pungagal menunjukkan identitas kebangsaan di era perubahan.
      Pemuda dan parpol pun gagal mewujudkan nasionalisme baru dan kehilangan orentasi.
      Harapanmewujudkan nasionalisme baru sebenarnya masih ada, yaitu mengobarkansemangat nasonalisme melalui media massa yang berkembang bebas di erareformasi.
      Tetapi media juga tidak menjalankan peran yang baik, sebaliknya justru menumbuhkan budaya pragmatisme.
      Berita-beritayang ditampilkan lebih pada perwujudan sebagai bangsa yang kehilanganidentitas. Berita mengenai keikutsertaan pelajar dan mahasiswa dalamOlimpiade Fisika atau Matematika bukan merupakan berita penting,sebaliknya berita yang menunjukan bangsa ini kehilangan identitasjustru menjadi sajian dari sebagian besar segmen berita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: