Distribusi Harta yang Merata Makmurkan Indonesia

Distribusi Harta yang Merata Makmurkan Indonesia

Setelah mengalami berbagai penderitaan, musibah dan cobaan. RakyatIndonesia saat ini sedang menjerit karena kesejahteraan, kemakmuran,serta keamanan diri dari bahaya tidak kunjung didapatkan, padahalseharusnya hal ini menjadi hak rakyat dan kewajiban Negara untukmemenuhinya. Ternyata penyebab dari semua itu berawal dari pemahaman ygdimiliki oleh para pemikir dan pemutus serta pelaksana segala kebijakandalam pemerintahan, salah satunya perekonomian.
Menurut pandangan sistem ekonomi kapitalis, setiap manusia mempunyaikebutuhan yang beranekaragam dan jumlahnya tidak terbatas. Tapikebutuhan hidup manusia yang dibahas di sini hanyalah kebutuhan yangbersifat material semata. Baik yang dapat dirasakan dan dapat diraba(barang) seperti makanan dan pakaian, maupun yang sifatnya dapatdirasakan tetapi tidak dapat diraba (jasa) seperti pelayanan dokter,guru dan lain-lain. Kebutuhan selain yang bersifat materi tidak pernahdibahas oleh sistem ekonomi kapitalis.
Setiap kebutuhan tersebut menuntut pemuasan oleh alat-alat pemuaskebutuhan yang jumlahnya terbatas. Oleh karena di satu sisi kebutuhanmanusia jumlahnya tidak terbatas sementara alat yang digunakan untukmemenuhinya terbatas, maka muncullah konsep kelangkaan (scarcity).Bertolak dari pandangan tersebut di atas, maka sistem ekonomi kapitalismenetapkan bahwa problematika ekonomi yang timbul oleh karena adanyaketerbatasan barang dan jasa yang ada pada diri setiap individu,masyarakat atau negara untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidakterbatas adalah adanya kelangkaan (scarcity).
Akibat pasti dari kelangkaan ini adalah adanya sebagian kebutuhanyang senantiasa tidak terpenuhi secara secara sempurna atau bahkantidak terpenuhi sama sekali. Ketika alat-alat dan sarana-sarana pemuasyang ada tidak mencukupi jumlah yang dibutuhkan berarti manusia beradadalam kondisi kekurangan (kemiskinan). Untuk mengatasinya, dilakukanlahberbagai macam cara sehingga produksi barang dan jasa yang adamencukupi semua kebutuhan manusia yang tidak terbatas tersebut. Carayang paling umum dilakukan adalah dengan jalan meningkatkan produksibarang dan jasa suatu negara (dari sini lahir konsep PendapatanNasional). Cara lainnya, adalah dengan membatasi jumlah pendudukmelalui program pembatasan kelahiran. Misalnya dengan mendorong rakyatmengikuti program KB, melegalisasi aborsi, sampai membolehkan hubungandi luar nikah “kumpul kebo”, hubungan sejenis (homoseksual dan lesbian)dan dengan cara-cara lain yang dapat menjamin pembatasan jumlahpenduduk. Dengan cara-cara tersebutlah diyakini problematika ekonomidapat dapat diatasi.
Selain itu, yang dimaksud dengan kebutuhan manusia menurutpandangan sistem ekonomi kapitalis adalah sesuatu yang diinginkanmanusia tanpa memandang apakah itu bermanfaat atau membahayakanmanusia. Juga tanpa melihat berapa jumlah orang yang menginginkanbarang/jasa tersebut. Suatu barang dan jasa bisa disebut sebagai alatpemuas kebutuhan apabila barang tersebut memiliki manfaat (nilaiguna/utilitas atau qimatul manfaah). Dan disebut memiliki nilai gunaapabila ada manusia yang menginginkan barang itu walaupun cuma seorang.Sebagai contoh, ketika ada seseorang mempunyai keinginan untukmenghilangkan rasa haus sekaligus dapat menghangatkan tubuhnya, ia akanmencari atau memproduksi sesuatu yang bisa memenuhi keinginannya itu.Ketika dilihat olehnya minuman keras (khamr) bisa digunakan untukmemenuhi kebutuhannya itu, maka jadilah khamr itu sebagai alat pemuastanpa melihat lagi apakah itu barang berbahaya atau tidak. Dan khmarakan tetap diproduksi selama masih ada yang membutuhkannya. Dalamkacamata ini, khamr disebut sebagai barang yang bermanfaat.
Pandangan sistem kapitalis yang menyamakan antara pengertiankebutuhan (need) dengan keinginan (want) adalah tidak tepat dan tidaksesuai dengan fakta. Keinginan (want) manusia memang tidak terbatas dancenderung untuk terus bertambah dari waktu ke waktu. Sementarakebutuhan manusia tidaklah demikian. Bila dikaji secara mendalam,kebutuhan manusia ada yang merupakan merupakan kebutuhan pokok (alhajat al asasiyah) dan ada kebutuhan yang sifatnya pelengkap (al hajatal kamaliyat), yakni berupa kebutuhan sekunder dan tersier. Kebutuhanpokok manusia berupa pangan, sandang dan papan dalam kenyataannyaadalah terbatas. Setiap orang yang kenyang setelah memakan makanantertentu, maka pada saat itu sebenarnya kebutuhannya telah terpenuhidan dia tidak memerlukan makanan yang lain.
Juga, orang yang sudah memiliki pakaian tertentu meskipun hanyabeberapa potong saja, maka sebenarnya kebutuhan dia akan pakaian sudahterpenuhi. Demikian pula jika orang telah menempati suatu rumahtertentu sebagai tempat tinggalnya meskipun sekadar menyewa, sebenarnyakebutuhannya akan rumah tinggal juga sudah terpenuhi. Dan jika manusiasudah mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya itu, sebenarnya diasudah dapat menjalani kehidupan ini tanpa mengalami kesulitan yangberarti.
Berbeda dengan kebutuhan (need), maka keinginan (want) manusiamemang tidaklah terbatas. Benar ia sudah kenyang yang berarti kebutuhanakan makanan sudah terpenuhi, tapi setelah itu ia dapat sajamenginginkan makanan lainnya sebagai variasi dari makanan pokoknya.Yang tidak terbatas adalah keinginan-keinginan manusia. Oleh karenaitulah pandangan orang-orang kapitalis yang menyamakan antara kebutuhandan keinginan adalah tidak tepat dan tidak sesuai dengan fakta yangada.
Kekeliruan lainnya adalah anggapan bahwa kebutuhan manusia terbataspada yang bersifat materi saja. Pandangan ini tidak tepat dan sangatbertentangan dengan kenyataan, dimana di samping memerlukan makanan,pakaian dan perumahan, manusia juga mempunyai kebutuhan lain sepertikebutuhan ruhiyah (beragama), kebutuhan moral, kebutuhan akan kasihsayang sesama manusia, kebutuhan untuk berketurunan, dan lain-lain.Para ekonom kapitalis tidak mengenal kebutuhan-kebutuhan itu, makawajar bila di tengah masyarakat terjadi kekeringan nilai agama, akhlaq,moral, dan nilai kemanusiaan.
Menentukan suatu kebutuhan berdasarkan keinginan manusia sematasangatlah berbahanya. Ini terlihat dari bagaimana masyarakat dinegara-negara penganut paham kapitalisme harus menerima kenyataan bahwasebagian dari mereka membutuhkan narkotika, heroin, judi, pelacuranmeskipun itu semua sesungguhnya sangat berbahaya. Pemikiran sepertiinilah yang akan menghancurkan masyarakat itu sendiri secara pasti.Kebutuhan yang aneh itu akan meruntuhkan tatanan masyarakat, karenamereka membiarkan segelintir orang (awalnya) mengkonsumsikebutuhan-kebutuhan tadi.
Kekeliruan lain yang dapat diungkap di sini adalah ketikakapitalisme menganggap bahwa barang dan jasa yang diproduksi hanyasemata-mata untuk dimanfaatkan, serta hanya sekadar menjadi alattukar-menukar sesama manusia. Padahal sebenarnya ketika barang dan jasayang dihasilkan oleh masyarakat dijadikan sebagai alat untuktukar-menukar, maka pada saat itulah barang dan jasa tersebut sangatmenentukan bentuk dan corak interaksi antar anggota masyarakat. Olehkarena itu agar interaksi di antara anggota masyarakat dapat berjalansecara aman, mendatangkan ketenteraman, kebahagiaan dan kesejahteraan,maka harus ada perhatian terhadap sesuatu yang harus dijadikan pijakanoleh masyarakat. Dengan kata lain harus ada kesepakatan bersama tentangmana yang pada hakikatnya bermanfaat bagi masyarakat serta mana yangpada hakikatnya membahayakan masyarakat. Suatu barang harus dianggapbermanfaat apabila memang esensinya bermanfaat. Maka, narkotika,prostitusi dan sebagainya harus tidak boleh dianggap sebagai barang danjasa yang bermanfaat hanya lantaran ada orang yang menginginkannya.
Berpangkal dari pandangan bahwa problematika ekonomi adalahkelangkaan, maka kapitalisme memproduksi kekayaan dengan porsi yangjauh lebih besar daripada distribusi untuk memenuhi kebutuhanmasyarakat. Atas dasar inilah, maka sistem ekonomi kapitalis hanyamengarah kepada satu tujuan, yaitu meningkatkan kekayaan negara secaratotal, kemudian berusaha memperoleh tingkat produksi hinggasetinggi-tingginya. Kemakmuran anggota masyarakat akan tercapai setelahadanya pertambahan pendapatan nasional (national income), dan naiknyaproduksi suatu negara. Ini semua, menurut mereka hanya dapatdirealisasikan jika masyarakat dibiarkan bekerja sebebas-bebasnya untukberproduksi dan mengumpulkan kekayaan tersebut.
Oleh karena itulah, kegiatan ekonomi dalam pandangan kapitalismeterfokus pada upaya peningkatan produksi barang dan jasa saja. Dengancara itu, distribusi pendapatan dilakukan dengan cara kebebasankepemilikan dan kebebasan bekerja bagi anggota masyarakat. Yaituanggota masyarakat dibiarkan sebebas-bebasnya dalam memperoleh kekayaanapa saja yang mampu mereka peroleh, sesuai dengan faktor-faktorproduksinya masing-masing. Baik pemenuhan tersebut dapat dilakukanuntuk seluruh anggota masyarakat, atau hanya terjadi pada sebagianorang saja sementara sebagian lainnya tidak terpenuhi. Pandangan inijelas keliru dan bertentangan dengan realitas, serta tidak pernahmenyebabkan naiknya taraf kehidupan individu secara menyeluruh. Begitupula, tidak pernah menghasilkan kemakmuran bagi setiap individu rakyat.Ini terlihat, misalnya di negara-negara Barat yang telah termasuk kedalam negara-negara kaya sekalipun masih banyak dijumpai orang-orangmiskin dengan perkampungan kumuhnya, pengemis dan gelandangan yangselalu terlihat di sudut-suduk kota.
Kesalahan utama terletak dalam memandang kebutuhan manusia yangharus dipenuhi. Kebutuhan manusia yang harus dipenuhi sesungguhnyaadalah kebutuhan masing-masing individu khususnya yang berkaitan dengankebutuhan pokok mereka. Bukan kebutuhan-kebutuhan segenap manusia,ummat ataupun bangsa secara keseluruhan. Oleh karena itu problematikaekonomi itu akan muncul ditengah masyarakat jikalau terdapat individuyang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya. Bukan karena seluruhkebutuhan masyarakat tidak terpenuhi. Selama kebutuhan pokok setiapindividu masyarakat terpenuhi meskipun kebutuhan pelengkap (sekunderdan tersier) belum atau bahkan tidak terpenuhi, suatu masyarakattidaklah akan mengalami kesulitan yang berarti dalam menjalanikehidupannya. Sebaliknya meskipun suatu negara telah tergolong negarakaya, tapi bila masih ada anggota masyarakatnya yang tidak mampumemenuhi kebutuhan pokoknya, maka sebenarnya negara itu masih mengalamiproblematika ekonomi.
Dengan demikian, problematika ekonomi yang sebenarnya adalahbagaimana distribusi kekayaan di tengah masyarakat kepada individu;yaitu pendistribusian barang dan jasa kepada tiap anggota masyarakat.Bukan pada pemenuhan kebutuhan yang dituntut oleh suatu negara secaratotal, tanpa melihat masing-masing individunya. Dengan kata lain,masalahnya adalah kemiskinan yang menimpa individu; bukan kemiskinanyang menimpa negara. Karena, kendati misalnya dengan terpecahkannyamasalah kemiskinan negara, tidak berarti telah memecahkan masalahkemiskinan individu masyarakat. Sebaliknya dengan terpecahkannyamasalah kemiskinan individu dan terdistribusikannya kekayaan denganbaik justru akan mendorong rakyat serta warga suatu negara untukbekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka lainnya. Padaakhirnya hal itu akan meningkatkan pendapatan nasional.
Oleh karena itu tatanan ekonomi yang dibuat harus berintikankebijakan yang dapat menjamin distribusi kekayaan Negara, baik kekayaandi dalam maupun di luar negeri- kepada seluruh anggota masyarakat, darisegi terjaminnya pemenuhan seluruh kebutuhan pokok semua anggotamasyarakat dan pemuasan mereka.
Sistem ekonomi Islam yangditerapkan dalam sebuah Negara yang berlandaskan syariah Islam akanmengatur distribusi yang merata kepada penduduknya. Distribusi yangmerata tersebut bukan hanya kewajiban yang diemban Negara sebagaipemerintah, namun juga sebagai kewajiban orang-orang yang telahdiberikan kepercayaan oleh rakyat kepada Tuhannya. Sebagaimana telahdiperingatkan Allah SWT dalam firmanNya:
“… supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja diantara kalian” (QS. Al Hasyr: 7)
Dengan pendistribusian harta yang merata kepada penduduknya, negarayang memakai sistem ekonomi Islam akan mampu menjamin kesejahteraankepada seluruh rakyatnya. Selain itu, syarat mutlak yang juga harusdipenuhi adalah Negara yang menginginkan kesejahteraan merata tersebuttidak hanya wajib menerapkan hukum syariah pada system ekonominya,melainkan juga di setiap aspek kehidupannya. Aspek tersebutdiantaranya, sistem pendidikan, sosial budaya, hukum, politik,pertahanan, dan aspek-aspek lainnya.
Selain kesejahteraan dan kemakmuran yang terjamin, penerapansyariah Islam dalam tiap lini kehidupan juga akan menjaminterlaksananaya hukum-hukum Allah sebagai Sang Pencipta. Hal ini tentuatas izinNya akan menghantarkan manusia pada derajat taqwa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: